Keberhasilan Si Kutu Buku
Beberapa pekan kedepan Fitri akan lulus dari jenjang
Sekolah Menengah Pertamanya. Dia memiliki keinginan melanjutkan sekolahnya
kejenjang SMA, karena terinspirasi dengan kaka sepupunya yang sekolah di SMA
hingga bisa melanjutkannya ke perguruan tinggi. Fitri pun mendekati ibu dan
ayahnya yang sedang bersantai duduk di halaman depan rumah.
“ayah, ibu... lagi pada ngapain?” tutur Fitri.
“lagi ngobrol-ngobrol aja nihh nak, sambil
nyari angin. Kok kamu belum tidur nak?” saut ibu.
“ow. Iyah nih bu, belum ngantuk dan pengen
ngobrol-ngobrol sama ayah dan ibu” jawab Fitri
“jadi gini Bu Yah, tahun ini insyaAllah Fitri
lulus SMP. Jadi, Fitri pengen lanjutin sekolah ke SMA bu, Yah” lanjut Fitri.
“buat apa kamu lanjutin sekolah, orangnya
malas, tidak pernah mendapatkan ranking selama sekolah di SMP juga. Iyah aja
kalau kayak Ipat, sudah pinter, rajin, suka dapat ranking juga di sekolahnya.
Tidak kayak kamu, bodoh banget!” Ucap ayah sambil menatap tajam Fitri.
“Ayah, sudahlah. Nanti juga Fitri bisa dapat ranking
kok” saut ibu menenangkan.
“tapi, Yahh, Fitri pengen lanjutin sekolah ke
SMA” jawab Fitri sedih.
“iyah nak, kamu lanjut sekolah ke SMA kok” saut ibu sambil tersenyum
“terima kasihh ibuuu” Fitri bergembira, sambil memeluk ibu
“YaAllah semoga ayah megizinkan Fitri untuk
melanjutkan sekolah” gumam ibu.
“ayah, boleh ya Fitri lanjutin sekolah ke SMA” Bujuk ibu ke ayah
“Yasudah, tapi jika sampai kelas 2 belum dapat
ranking di sekolahnya, berhenti saja sekolahnya” tutur ayah dengan tegas
“Alhamdulillah” gumam ibu.
“iyah Ayah, Fitri janji akan berusaha
mendapatkan ranking kelas di sekolah SMA nanti” Jawab Fitri sambil tersenyum gembira karena
diizinkan melanjutkan sekolah oleh ayahnya.
Malam semakin larut, menunjukan pukul 9 malam. Ibu pun
menyuruh Fitri untuk masuk ke kamar dan tidur.
“nak, kamu masuk yah tidur, sudah malam. Besok
bangun pagi-pagi ke sekolah” bujuk ibu
“iya ibu, besok ada pembagian surat kelulusan
di sekolah”. Jawab Fitri.
Fitri pun masuk ke kamar, dan tidur.
Di pagi hari yang cerah, sang mentari menyinari
embun-embun bening di dedaunan yang hijau, kicau burung pagi berirama merdu
seakan berbahagia menyambut datangnya hari yang cerah, yang menggambarkan cerah
dan bahagianya hati Fitri, karena ayahnya mengizinkan untuk melanjutkan sekolah
ke Jenjang SMA. Fitri pun bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah, memakai
seragam putih biru disertai dasi dan topi. Ibu sudah menyiapkan sarapan nasi
goreng dan telur dadar kesukaan anaknya.
“Ayah, Fitri sarapan sudah siap nih” panggil ibu
“iyah buuu” jawab Fitri
“mmm sedap sekali bau nasi gorengnya, pasti
enak nih”. Ucap ayah
“yuk, mari di makan!” ajak ibu
Keluarga kecil itu pun dengan nikmatnya, menyantap nasi
goreng dan telur dadar masakan ibu Ana, ibu dari Fitri. Nasi goreng dengan
bumbu yang pas, baunya sedap, rasanya tidak pedas dan tidak terlalu manis, bisa
dibilang rasanya manis pedas dan rasanya pun tidak bisa diragukan lagi, nikmat
sekali. Tentu saja masakannya nikmat, ibu Anna merupakan mantan hokky di salah
satu rumah makan terkenal saat masih gadis.
Selesailah sudah sarapan dengan nasi gorengnya, dan ayah
pun pamit berangkat kerja, karena takut kesiangan sampai kantor.
“bu, Fit. Ayah berangkat dulu ya, takut kesiangan sampai
kantor. Ibu baik-baik dirumah dan kamu Fitri jangan nakal di sekolahnya ya”
ucap ayah sambil salim dengan ibu dan Fitri.
“iyah ayahh” ibu dan Fitri serentak menjawab.
“Assalamualaikum” ucap ayah sambil keluar.
“Waalaikumussalam warahmatullah” jawab ibu dan Fitri serentak.
Ibu dan dan dibantu oleh Fitri membereskan bekas
makannya, dan menaruhnya ke dapur. Setelah itu Fitri pun memakai sepatu
pinknya. Tak lama selang waktu kemudian teman dekat Fitri memanggil, terdengar
suara panggilan dari arah luar pintu depan.
“Fitri, hari ini kamu ke sekolah?” panggil Novi, teman dekat Fitri
“iyaah Nov, masuk dulu sini!” Fitri memerintah.
“iyah Fit, Assalamualaikuum” ucap Novi sambil membuka pintu
“Nov, kamu tidak membawa tas?” tanya Fitri
“tidak Fit, kan hari ini hanya mengambil surat
keterangan kelulusan saja” jawab Novi.
“ow iyah juga yah. Tapi, aku bawa aja kali
yah? Buat naruh suratnya nanti, takut kalau di pegang malah lusuh dan kotor” jelas Fitri prihatin.
“ow yaudah, mending kamu bawa tas saja, nanti aku
nitip naruh surat” jawab Novi
Dua sekawan itu pun telah siap berangkat ke sekolah untuk
mengambil surat keterangan kelulusan dari sekolah menengah pertama. Mereka
mendatangi ibu yang sedang berada di dapur untuk berpamitan ke sekolah.
“ibu, Fitri berangkat dulu ya” ucap Fitri sambil bersaliman dengan ibunya
“ibu” ucap Novi sambil berpamitan.
“Assalamualaikum” ucap Novi dan Fitri
“Waalaikumussalam, hati-hati dijalan yah
kalian” jawab Ibu sambil memperhatikan anak dan temannya sedang berjalan.
Fitri dan Novi pun berangkat ke sekolah dengan
mengendarai angkutan umum berwarna biru tua. Sesampainya di sekolah, sudah
banyak guru-guru dan anak-anak OSIS yang sedang mempersiapkan untuk acara
upacara Bendera, dan upacara pun berjalan dengan lancar dan tidak ada kendala
sedikit pun hingga selesai, karena petugas upacaranya pun di sekolah ini memang
sudah terlatih dengan baik.
_kring.._kring..._kring... bel berbunyi tanda masuk kelas, yang saat itu
3 kelas dari jumlah kelas 9 digabungkan menjadi satu kelas di Aula, karena
hanya akan membagikan surat keterangan kelulusan.
“Nov, alhamdulillah yah satu angkatan semuanya
lulus” ucap Fitri.
“iyah Alhamdulillah yah”. Jawab Novi
Singkat cerita Fitri pun mendaftarkan diri masuk sekolah
SMA diantar oleh ibunya, ayahnya tidak bisa mengantarkan, karena sibuk kerja.
“bu, sekolahannya bagus banget yah?” tutur Fitri
“iyah, makanya kamu yang rajin yah sekolahnya,
supaya menjadi apa yang diharapkan ayah kamu, mendapat ranking” jawab ibu
“insyaAllah bu, Fitri akan berusaha” tanggapan Fitri.
Mentari menyapa pagi, menyinari wajah cantik Fitri nan
manis sekali. Fitri dengan seragam putih abu-abunya sangat gembira memasuki gerbang
sekolah SMA Maarif Cilegon yang ditemani dengan Novi teman dekatnya. Yang saat
itu merupakan hari pertama Fitri masuk sekolah. Hari itu pun guru hanya
mengajak kepada siswa-siswi barunya untuk saling memperkenalkan diri di depan
kelas kepada teman-temannya.
Jam istirahat pun telah tiba, Fitri dan Novi duduk di
halaman depan kelas mereka. Tiba-tiba, Ipat sang jura kelas sewaktu SMP,
mendatangi mereka berdua.
“Eh Fitri, hebat juga kamu bisa masuk sekolah
ini, dapat nyogok yah haha” ujar Ipat Sombong
“Astaghfirullah, engga kok Pat. Saya masuk
sekolah ini melalui tes juga” jawab Fitri
“terserah sih, yang jelas pastinya kamu gabakalan bisa
nyaingin aku, sejak SMP juga aku yang dapat ranking terus, dan kamu tidak
pernah sekali pun hahah” tutur Ipat, sombong.
“tidak boleh terlalu sombong Pat, kecerdasan
tidak untuk menyombongkan diri” tegur Novi
“terserah...” jawab Ipat sambil pergi meninggalkan mereka
berdua
Hari-hari terus berlalu, Fitri pun duduk di kursi depan
halaman rumahnya setelah pulang sekolah, merenungi dirinya serta berfikir
bagaimana caranya, supaya bisa mendapatkan nilai yang bagus dan bisa mendapat
ranking di kelsnya. Tidak lama kemudian terdengar suara panggilan dari kejauhan
memanggil nama Fitri.
“Fitri.. Asslamualaikuum” panggil Ita kaka sepupu
Fitri
“Walaikumussalam kaa Itaaa” dengan gembira menyut kedatangan kaka sepupu
yang menjadi panutannya.
“ehh, kamu udah gede yah sekarang” tutur Ita.
“iyah dong kaa, aku juga sudah masuk kelas
satu SMA loh kak” Fitri dengan bangganya
“ow gitu syukurlahh” lanjut Ita.
“oow iyah ka, silahkan duduk. Kaka mau minum apa nihh?
Biar Fitri bikinkan” ujar Fitri
“udah gausah repot-repot, ini kaka juga bawah
teh Pucuk sama cemilan oleh-oleh buat Fitri” jawab Ita.
“wahh, kaka baik banget” jawab Fitri
“kita kan saudara, harus saling baik dan
mengsihi, ow iyah bagaimana di sekolahnya, nilainya bagus engga?” tanya Ita
Fitri pun termenung, ada rasa malu dan takut untuk
mengutarakan semuanya kepada kaka sepepunya, karena nilai-nilai yang didapat di
sekolahnya banyak yang jelek.
“anu ka, nilai aku masih banyak yang jelek” jawab
Fitri menunduk
“loh, kamu harus rajin-rajin belajar dan
perbanyak membaca buku! Karena dengan membaca buku akan menambah pengetahuan di
dalam otak kamu, dan bisa membuat kamu menjadi cerdas serta bisa melancarkan
kamu berbicara di depan forum” tegas Ita.
“iyah ka, tapi Fitri bingung mau baca buku apa
dulu?” tutur Fitri
“nah, untuk pemula seperti kamu bisa membaca buku-buku
yang ringan, seperti cerpen atau pun novel, nih kaka bawa buku kumpulan cerpen,
boleh buat kamu. Tapi, janji harus dibaca selesai minggu depan. Minggu depan
kaka kesini lagi, akan bawakan buku Novel buat kamu”. ucap Ita
“MasyaAllah kaka baik banget, terima kasih ya ka.
Fitri janji akan banyakin membaca buku” jawab Fitri gembira
“yasudah kaka pulang dulu ya, jangn lupa
dibaca bukunya minggu depan akan kaka tes kamu loh, Assalamualaikum” ujar Ita sambil melangkahkan kakinya pulang.
“siap kaka laksanakan, waalaikumussalam,
hati-hati di jalan” jawab Fitri
Fitri pun mengubah pola hidupnya setelah mendapatkan saran
dan masukan serta motivasi dari kaka sepupunya, dia benar-benar melakukan apa
yang diperintahkan oleh kaka sepupunya tersebut. Dalam jangka waktu 3 hari dia
menyelesaikan membaca semua isi buku cerpen yang diberi oleh Ita kaka
sepupunya. Sehingga buku cerpen itu dibacanya berulang hingga 3 kali khatam
dalam satu minggu. Dan tentunya banyak yang Fitri ingat isi didalamnya.
Hari-hari dijalani oleh Fitri dengan berselimut semangat
untuk membaca buku, hingga diselah-selah waktu sekolahnya pun Fitri sering kali
masuk ke purpastakaan untuk membaca buku. Suatu ketika Fitri mengajak teman
dekatnya untuk menemani ke perpustakaan.
“Nov, yuk temenin aku ke perpustakaan” ajak Fitri.
“duhh Fit, engga dulu deh, aku pengen ke
kantin, laper nih. Lagian ngapain sih hampir setiap jam istirahat baca buku
terus, engga bosen apa bolak balik perpus sekolah. Aku tidak bisa nemenin dulu
yah maaf” jawab Novi
“membaca itu bisa menmbah pengetahuan Nov,
sehingga pengetahuan kita akan lebih banyak lagi dari yang sebelumnya, yasudah
kamu ke kantin dulu saja, aku sendiri aja ke perpusnya. Nanti kalau mau, nyusul
saja ya!” ujar Fitri
“okey Fitri cantiik hehe” ledek Novi sambil narik hidung Fitri
Fitri berjalan menuju perpustakaan sekolah. Di dalam
perpustakaan dia dengan semangatnya membaca buku-buku tentang sastra dan
cerpen-cerpen, karena dia sangat hoby dengan karya-karya sastra semacam cerpen
dan novel. Selain itu juga, Fitri pun sering membaca-baca buku paket yang ada
diperpustakaan sekolah, untuk menambah pemahaman pelajaran yang sudah diajarkan
oleh guru di kelas.
Tiba-tiba saja datanglah sekelompok siswi yang diketuai
oleh Ipat, menghampiri Fitri yang sedang khusyuk membaca buku.
“mmm nak rajin nih ceritanya, haha percuma Fit, mau
kamu sehari ngadepin buku mulu geh gabakal bisa kayak aku, bisa dapet ranking
kelas. Karena nih yah otak kamu itu encer, karena keturunan orang biasa-biasa
saja, kyak aku dong anak dosen, makanya akunya juga pinter hahaha, dahlah
jangan mimpi loh bisa ada prestasinya” julid Ipat
Fitri seketika teringat kata-kata Ita kaka sepupunya. yang
waktu itu, menasihati untuk memperbanyak membaca buku dan rajin belajar,
suapaya bisa menjadi cerdas.
“insyaAllah suatu saat aku bisa berprestasi
Pat, karena batu yang keras aja bisa hancur dengan terus-terusan disiramkan
air. Begitu pun dengan kebodohan aku, semoga dengan banyaknya membaca, suatu
saat bisa banyak pengetahuan yang aku miliki” jawab Fitri dengan tegar
“hahaha ngimpi kamu fit” celah Ipat
Setiap hari, di rumah mau pun di sekolah Fitri selalu
berteman dengan buku, bisa dibilang menjadi kutu buku, karena saking dekatnya
dengan buku. Fitri pun jadi rekor terbanyak peminjam buku di perspustakaan
sekolah.
Suatu ketika ada seleksi perlombaan membuat cerpen di
sekolahnya, untuk dikirmkan ke ajang perlombaan olimpiade karya sastra tingkat
kota. Kabar tersebut ditempel di papan informasi sekolah, dan Novi teman
dekatnya Fitri pun yang mengetahui informasi itu, lalu langsung memberitahu
Fitri, karena Novi tau, bahwa Fitri suka membaca cerpen dan novel.
“mmm kuberitahu Fitri ah, siapa tahu dia tertarik dan
bisa mengikuti seleksi ini” gumam Novi
Novi pun mencari Fitri di sekitar sekolah, akan tetapi
Novi tidak melihatnya. Lalu Novi menanyakan ke salah satu guru yang kebetulan
pengelola perpustakaan.
“Pak-pak, punten mau tanya, melihat Fitri
engga?” tanya Novi
“ow, Fitri ada di perpustakaan tuh Nov” jawab pak Jamil, guru sekaligus pengelola
perpustakaan sekolah.
“ow terima kasih yah pak” saut Novi.
Novi bergegas menuju ke perpustakaan sekolah untuk
menemui teman dekatnya itu, dan benar saja di perpustakaan ada Fitri yang
sedang khusyuk membaca buku kumpulan cerpen. dengan tergesah-gesah Novi
langsung mengabarkan informasi tersebut.
“Fit, Fit... kamu harus ikut seleksi!” ujar Novi
sambil terengah-engah nafasnya bekas berlari
“seleksi, seleksi apaan?” tanya Fitri
“itu looh, yang di papan pengumuman, sekolah
kita akan mengadakan seleksi untuk perlombaan olimpiade kary sastra tingkat
kota. Aku yakin kamu bisa membuat cerpen, karena kamu hoby banget membaca
cerpen dan novel. Hayuuk mau yaah pliss! Hehe” bujuk Novi.
“mmm sebenarnya ini kesempatan buat aku,
nunjukin bahwa aku bisa berprestasi” gumam Fitri
“iyah deh insayAllah aku ikut” jawab Fitri sambil tersenyum
“nah gitu dong, pasti kamu bisa, Fitri pasti
bisa...” Novi menyemangati
Seleksi pun berjalan dengan lancar. Dengan dewan juri
yang luar biasa yaitu salah seorang dosen dari Untirta, yang kebetulan beliau
salah satu dosen di Pendidikan Bahasa Indonesia bagian sastra. Pengumuman pun
di tempel di papan informasi sekolah. Dan anak-anak pun ramai melihat hasil
pengumuman tersebut, dan tertulis di papan informasi Fitri Rahmasari penulis
cerpen yang berjudul “Keberhasilan Si Kutu Buku” menjadi pemenang dalm
seleksi tersebut dan akan mengikuti jenjang perlombaan menulis cerpen olimpiade
karya sastra tingkat kota.
“Fiiit, kamu hebat bangetttt kamu lolos
seleksi dan nilai paling tinggi” ujar Novi.
“iya alhamdulillah tidak menyangka banget
niih, ini semua juga karena kamu yang menyemanagatin aku, terima kasih yah Nov,
kamu teman yang paling baik yang aku miliki” ucap Fitri sambil memeluk Novi.
“iya Fit, sama-sama, aku ikut bangga” ucap Novi sambil tersenyum.
Tiba-tiba saja Ipat menghampiri mereka berdua.
“heh, baru segitu saja sudah bangga, palingan
juga dapet menjiplak dari internet teks cerpennya” julid Ipat
“astagfirullah, engga kok Pat, itu murni hasil
saya sendiri” jawab Fitri.
“sudahlah-sudah, mending kita pulang yuk Fit” ajak Novi
Berirt Fitri mewakili perlombaan itu pun sampai kepada
telinga ibunya Fitri. ibu sangat gembira mendengar kabar itu, yang di dengar
dari salah satu teman Fitri. Dan ibunya Fitri pun memberitahukan ayahnya soal
itu.
“Ayah, Fitri mewakili sekolahnya, untuk ikut
lomba di olimpiade karya satra tingkat kota minggu depan, ibu seneng bangett” ucap ibu dengan gembira.
“yang bener bu? Terus Fitrinya mana sekarang?” jawab ayah bahagia
“itu sudah dikamar lagi baca-baca buku” jawab ibu
Ayah pun memanggil Fitri, untuk memastikaan hal tersebut,
iya atau tidaknya dan jika memang benar iya, maka ayahnya Fitri akan memberikan
apa saja yang Fitri mau.
“naak, naaak, sini nak” panggil ayah
“iya ayahh” Fitri menghampiri ayahnya “Kenapa yah?”
lanjut Fitri.
“kamu bnear ikut lomba mewakili sekolah?” tanya ayah.
“iya ayah, alhamdulilah Fitri lolos seleksi di
sekolah dan mewakili sekolah, untuk mengikuti perlombaan olimpiade sastra
tingkat kota minggu depan. Minta doanya ya ayah!” jawab Fitri sambil tersenyum manis
“ayah pasti doain, sekarang bilang sama ayah, kamu mau
apa dari ayah, apa pun akan ayah turuti sebagai rasa bangga dan syukur ayah
terhadap kamu” ujar ayah gembira.
“engga ayah, Fitri tidak minta apa-apa” jawab Fitri
“udah bilang saja apa yang kamu mau, ini
perintah ayah loh” ucap ayah meyakinkan.
“yaudah, Fitri minta dibelikan buku saja sama
ayah” jawab Fitri
“itu doang nak, ayah pengen memberikan hadiah
yang besar buat kamu padahal. Yasudah besok kita berangkat ke toko buku, bebas
kamu pilih buku di sana, ayah akan belikan buat kamu”. Ujar ayah sambil tersenyum.
“iyah ayah, terima kasih ya” sambil memeluk ayahnya.
Waktu terus berputar, hari-hari pun tetap berjalan.
Tibalah saatnya perlombaan dilaksanakan Fitri dengan tenangnya menggerakkan
jari-jari cantiknya, untuk mengetik dan merangkai kata untuk cerpen yang
dibuatnya. Dia menuliskan cerpen dengan judul yang sama seperti ketika seleksi,
yaitu “keberhasilan si Kutu Buku” akan tetapi lebih ditingkatkan lagi dari segi
diksi, bahasa dan ceritanya. Dalam waktu setengah dari yang telah ditentukan
dewan juri Fitri, sudah menyelesaikan tulisannya tersebut, dan Fitri pun
langsung melaporkan kepada juri bahwa cerpennya sudah sselesai.
“Pak, saya cerpennya sudah selsai” ujar Fitri.
“cepat amat kamu, hebat, yasudah silahkan istirahat di
luar” saut dewan juri
Selang beberpa hari kemudian, tibalah di waktu pengumuman
hasil perlombaan. Fitri diantar dengan guru dan beserta ayah dan ibunya untuk
menghadiri pengumuman tersebut. Masa-masa paling menegangkan antara mendapatkan
juara atau kalah yang dirasakan oleh semua pihak. Juara sepuluh besar telah
dibacakan, namun nama Fitri tidak ada di situ. Tibalah pembacaan juara tiga
besar, namun hingga penyebutan juara 3 dan 2, nama Fitri juga tidak ada. Satu
juara tanpa nama masih ditunggu-tunggu pengumumannya, hal yang paling
menegangkan sekali. Penerima juara satu pun dibacakan oleh juri.
“juara pertama di raih oleh saudari.... Fitri
Rahmasarii” dengan semangat juri membacakan.
Sontak langsung saja ayah dan ibu Fitri memeluk erat
putrinya yang berprestasi tersebut. Hal yang diharapkan oleh ayahnya sekarang
diwujudkan oleh putrinya. Hal itu pun membuat ayah Fitri semakin gembira dan
menyayangi putri tunggalnya tersebut.
“naak, kamu hebat, ayah bangga sama kamu” memeluk Fitri sambil meneteskan air mata
karena terharu
“terima kasih ayah”. Fitri pun menangis terharu
Ucapan selamat pun dilontarkan oleh banyak orang kepada
Fitri. Para peserta perlombaan bergantian mengucapkan selamat kepada Fitri,
para guru yang ikut mengantar mengucapkan selamat dan bangga kepada Fitri.
Waktu pun terus berjalan hari demi hari hingga bulan pun
silih berganti, tibalah di masa penilaian semester 1 Fitri bersekolah. Saat itu
juga, masa yang menegangkan buat Fitri antara bisa mendapat ranking kelas atau
tidak, dia berharap bisa mendapatkan nilai yang memuaskan, sehingga bisa
menjadi seperti yang diharapkan oleh ayahnya.
“yaAllah semoga hasil ujianku di semester ini
mendapatkan hasil yang bagus” gumam Fitri.
“Fiiit kenapa kamu melamun?” tanya bu Yati wali kelas Fitri
“hehe engga kok bu” jawab Fitri sambil nyengir
“nilai kamu bagus-bagus Fit, kamu hebat.
Yaudah ibu ke ruangan dulu yah” lanjut ibu Yati
“iyah ibu” jawab Fitri
Firi pun termenung sejenak, memikirkan ucapan bu Yati tadi
“mmm apa iya yah, nilai aku bagus-bagus?” bertanya kepada diri sendiri.
Minggu kedua setelah ujian usai, waktunya pembagian rapot
di sekolah. Seperti biasa sekolah akan mengumumkan siswa yang berprestasi
selama mengikuti belajar dan ujian. Pengumuman pun di mulai, saat itu Fitri
menjadi juara kelas ke 2. Sedangkan untuk ke satu masih tetap di raih oleh
Ipat. Akan tetapi Fitri sangat bersyukur mendapatkan juara kelas ke 2
dikelasnya, karena baru kali ini mendapatkan juara kelas.
“Ipat selamat yaa” ujar Fitri.
“yaaa, sudah biasa aku mah” jawab Ipat sombong.
Novi pun langsung mengajak Fitri menghindar dari Ipat
“hayuk Pit, pulang yuk” ajak Novi
“yuuk, Ipat duluan ya” tutur Fitri
Sesampainya di rumah ibu melihat rapot anaknya, dan
betapa gembiranya tertulis juara kelas ke 2 di rapot anaknya. Yang selama ini
belum pernah di raih oleh anaknya selama sekolah sejak TK, SD sampai SMP pun.
“alhamdulillah naak, akhirnya kamu bisa
mewujudkan harapan ayah kamu” ujar ibu
“hehe iyah ibu Alhamdulillah aku bersyukur
banget. Ini semua karena doa ayah dan ibu serta motivasi dari teh Ita yang
menyuruhku agar rajin membaca buku, hingga bisa sampai saat ini, aku akan terus
ikutin jejak teh itu, biar bisa kuliah beasiswa seperti dia juga” ucap Ita sambil tersenyum
Ayah Fitri pun mengetahui anaknya mendapatkan juara ke 2
di kelasnya. Hal itu membuat ayah Fitri semakin bangga terhadap Fitri. dan
membelikannya motor sebagai hadiah untuk anaknya.
“nakk, ini buat kamu” memberikan kunci motor
“kunci apa ini ayah?” tanya Fitri
“itu motor buat kamu, hadiah dari ayah” jawab ayah tersenyum
“alhamdulillah terima kasih ayah” memeluk ayahnya
Membaca buku merupakan cara untuk membuka jendela
pengetahuan, dengan membaca, banyak pengetahuan-pengatehuan baru yang di dapat,
denagn membaca juga menjadikan kita bisa banyak wawasan. Oleh karena itu,
membaca buku merupakan hal yang harus dijadikan kebutuhan oleh semua orang
terlebih para pelajar. Prestasi akan terus meningkat dengan banyaknya
pengetahuan yang kita miliki, tahap demi tahap menjadi lebih baik dari pada
sebelumnya. Bacalah bukumu, jadilah kutu buku. (SELESAI......)
Komentar
Posting Komentar